“Alexaa… Sayang, sini sama Mami..”. Terdengar jelas suara hangat, yang lembut memanggil nama Alexa dari depan pintu rumah. Alexandra Gabriella Timothy, adalah putri kecil yang sangat manis dan cantik. Alexa, begitulah biasanya ia disapa. Putri kecil yang cantik dari sepasang suami dan istri, bapak Samuel Timothy dan Ibu Helen Gabriella. Alexa sangat disayangi oleh kedua orang tua dan keluarga besarnya. Selain karena dia adalah anak tunggal dari keluarga, Alexa juga memiliki keunikan tersendiri. Di usianya yang baru memasuki empat tahun, dia sudah mengikuti lomba menari balet yang diadakan di kota nya. Berawal dari sang Mami, begitu sapaan sayang Alexa pada ibu nya yang sangat gemar menari. Menonton film serta video orang menari khususnya balet, semakin membuat Alexa tertarik untuk mempelajari hal tersebut. Kedua orang tua Alexa sangat mendukung minat dari putri kesayangan mereka ini. Mulai dari mengikuti les privat yang khusus serta beberapa lomba tingkat nasional, semuanya difasilitasi oleh Papi dan Mami Alexa.
“Lhoo, sayaang.. Piiih!! Papiii!!..”. Tiba-tiba terdengar suara jeritan yang cukup keras dari dalam kamar Alexa. “Ada apa Miih?! Kok kenceng banget teriaknya. Papi kaget lhoo!” Ayah Alexa yang sangat panik segera datang dengan berlari ke kamar anaknya itu. Rupanya Alexa pingsan saat sedang ngobrol dengan ibunya. mereka berdua bingung dan sangat panik dengan keadaan putri kecilnya tersebut. “Ayoook Piii.. Siapin mobil, kita bawa Alexa ke rumah sakit sekarang!” kata ibunya dengan suara yang menggambarkan perasaan takut akan keadaan putrinya itu. Setibanya di rumah sakit, Alexa langsung dibawa ke ruang UGD dan diperiksa oleh dokter. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya dokte memanggil kedua orang tua Alexa untuk bicara mengenai anaknya. “Hah?! Apaaa?!! Tidak mungkin! Dokter pasti salah pasien! Anak saya itu masih terlalu kecil, dok! Nggak mungkin itu terjadi! Tiba-tiba suara keras terdengar dari ibunda Alexa, yang sangat kaget dengan penjelasan dokter akan kondisi anaknya. Ayah Alexa hanya bisa terdiam dan tak berani menatap mata istrinya, terlihat sangat terpukul mendengar hal tersebut.
Kanker kelenjar getah bening. Itulah nama penyakit yang menggerogoti tubuh Alexa, putri kecil yang baru berusia empat setengah tahun. penyakit ini juga yang membuat kedua orang tuanya sangat terpukul dan sangat bersedih. Setelah melakukan pemeriksaan lengkap dari dokter spesialis kanker, barulah diketahui bahwa Alexa sudah masuk stadium empat atau fase paling puncak dari kanker. Telah lama penyakit ini bersarang dalam tubuh mungil Alexa, namun anak ini tetap terlihat aktif dan ceria. Sejak hari itu, tak banyak yang bisa dia lakukan. Hanya menjalankan kemoterapi dan berbagai pemeriksaan lengkap serta mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan oleh dokter. Setiap hari orang tuanya, khususnya ibu Alexa berdoa dengan menangis agar anaknya mengalami kesembuhan, begitupun ayah nya. Gadis kecil yang belum terlalu mengenal penyakitnya ini, berusaha untuk tetap tegar dan selalu ceria di depan keluarga nya. Alexa tetap menyibukkan dirinya dengan sekolah dan les balet. Meskipun terkadang dia harus menahan rasa sakit yang amat sangat luar biasa hingga membuatnya sering pingsan.
“Pih, Mih, kita ngobrol yuk..” suara kecil dengan setengah menahan rasa sakit keluar dari mulut Alexa. “iya sayang, ini Papi sama Mami kan lagi sama Alexa..” sahut ayahnya sambil menahan tangis. “Papi sama Mami, terima kasih yah sudah sayang sama aku.. Alexa sayang banget sama Papi sama Mami.. Alexa minta maaf yah.. sering nakal, sering ngerepotin Papi sama Mami. Sekarang Alexa mau pulang, biar nggak nahan sakit lagi yah Piih, Mih”. Inilah kalimat terakhir sebelum hembusan nafas terakhir keluar dari paru-paru Alexandra Gabriella, putri cantik kesayangan Samuel dan Helen. Tangisan yang tak dapat dibendung, keluar dari sang ibu yang sangat hancur hatinya mengiringi kepergian gadis kecil itu. Ayah Alexa hanya tertunduk dan menangis memeluk erat tubuh sang putri. Ayahnya teringat akan satu kalimat yang sering diucapkan putrinya dulu, bahwa langit tidak selalu berwarna biru. Sama seperti Alexa, yang tak selalu sehat dan bersama-sama dengan Papi dan Maminya. Mengantar gadis kecilnya hingga ke pemakaman, membuat Helen dan Samuel tak dapat menahan kesedihan dan air mata yang terus mengalir di pipi keduanya. Inilah akhir cerita indah sang penari balet cilik yang cantik dengan segudang prestasi dan cinta dari kedua orang tuanya.