Sabtu, 21 November 2020

Langit Tak Selalu Berwarna Biru

“Alexaa… Sayang, sini sama Mami..”. Terdengar jelas suara hangat, yang lembut memanggil nama Alexa dari depan pintu rumah. Alexandra Gabriella Timothy, adalah putri kecil yang sangat manis dan cantik. Alexa, begitulah biasanya ia disapa. Putri kecil yang cantik dari sepasang suami dan istri, bapak Samuel Timothy dan Ibu Helen Gabriella. Alexa sangat disayangi oleh kedua orang tua dan keluarga besarnya. Selain karena dia adalah anak tunggal dari keluarga, Alexa juga memiliki keunikan tersendiri. Di usianya yang baru memasuki empat tahun, dia sudah mengikuti lomba menari balet yang diadakan di kota nya. Berawal dari sang Mami, begitu sapaan sayang Alexa pada ibu nya yang sangat gemar menari. Menonton film serta video orang menari khususnya balet, semakin membuat Alexa tertarik untuk mempelajari hal tersebut. Kedua orang tua Alexa sangat mendukung minat dari putri kesayangan mereka ini. Mulai dari mengikuti les privat yang khusus serta beberapa lomba tingkat nasional, semuanya difasilitasi oleh Papi dan Mami Alexa. 

“Lhoo, sayaang.. Piiih!! Papiii!!..”. Tiba-tiba terdengar suara jeritan yang cukup keras dari dalam kamar Alexa. “Ada apa Miih?! Kok kenceng banget teriaknya. Papi kaget lhoo!” Ayah Alexa yang sangat panik segera datang dengan berlari ke kamar anaknya itu. Rupanya Alexa pingsan saat sedang ngobrol dengan ibunya. mereka berdua bingung dan sangat panik dengan keadaan putri kecilnya tersebut. “Ayoook Piii.. Siapin mobil, kita bawa Alexa ke rumah sakit sekarang!” kata ibunya dengan suara yang menggambarkan perasaan takut akan keadaan putrinya itu. Setibanya di rumah sakit, Alexa langsung dibawa ke ruang UGD dan diperiksa oleh dokter. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya dokte memanggil kedua orang tua Alexa untuk bicara mengenai anaknya. “Hah?! Apaaa?!! Tidak mungkin! Dokter pasti salah pasien! Anak saya itu masih terlalu kecil, dok! Nggak mungkin itu terjadi! Tiba-tiba suara keras terdengar dari ibunda Alexa, yang sangat kaget dengan penjelasan dokter akan kondisi anaknya. Ayah Alexa hanya bisa terdiam dan tak berani menatap mata istrinya, terlihat sangat terpukul mendengar hal tersebut.

Kanker kelenjar getah bening. Itulah nama penyakit yang menggerogoti tubuh Alexa, putri kecil yang baru berusia empat setengah tahun. penyakit ini juga yang membuat kedua orang tuanya sangat terpukul dan sangat bersedih. Setelah melakukan pemeriksaan lengkap dari dokter spesialis kanker, barulah diketahui bahwa Alexa sudah masuk stadium empat atau fase paling puncak dari kanker. Telah lama penyakit ini bersarang dalam tubuh mungil Alexa, namun anak ini tetap terlihat aktif dan ceria. Sejak hari itu, tak banyak yang bisa dia lakukan. Hanya menjalankan kemoterapi dan berbagai pemeriksaan lengkap serta mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan oleh dokter. Setiap hari orang tuanya, khususnya ibu Alexa berdoa dengan menangis agar anaknya mengalami kesembuhan, begitupun ayah nya. Gadis kecil yang belum terlalu mengenal penyakitnya ini, berusaha untuk tetap tegar dan selalu ceria di depan keluarga nya. Alexa tetap menyibukkan dirinya dengan sekolah dan les balet. Meskipun terkadang dia harus menahan rasa sakit yang amat sangat luar biasa hingga membuatnya sering pingsan. 

“Pih, Mih, kita ngobrol yuk..” suara kecil dengan setengah menahan rasa sakit keluar dari mulut Alexa. “iya sayang, ini Papi sama Mami kan lagi sama Alexa..” sahut ayahnya sambil menahan tangis. “Papi sama Mami, terima kasih yah sudah sayang sama aku.. Alexa sayang banget sama Papi sama Mami.. Alexa minta maaf yah.. sering nakal, sering ngerepotin Papi sama Mami. Sekarang Alexa mau pulang, biar nggak nahan sakit lagi yah Piih, Mih”. Inilah kalimat terakhir sebelum hembusan nafas terakhir keluar dari paru-paru Alexandra Gabriella, putri cantik kesayangan Samuel dan Helen. Tangisan yang tak dapat dibendung, keluar dari sang ibu yang sangat hancur hatinya mengiringi kepergian gadis kecil itu. Ayah Alexa hanya tertunduk dan menangis memeluk erat tubuh sang putri. Ayahnya teringat akan satu kalimat yang sering diucapkan putrinya dulu, bahwa langit tidak selalu berwarna biru. Sama seperti Alexa, yang tak selalu sehat dan bersama-sama dengan Papi dan Maminya. Mengantar gadis kecilnya hingga ke pemakaman, membuat Helen dan Samuel tak dapat menahan kesedihan dan air mata yang terus mengalir di pipi keduanya. Inilah akhir cerita indah sang penari balet cilik yang cantik dengan segudang prestasi dan cinta dari kedua orang tuanya. 


PERJALANAN BARU DI GRAND CENTRAL MARKET

  Musim ini aku kembali bersama-sama lagi dengan rombongan kelas meskipun perasaanku sudah berbeda dengan yang dulu. Memang aku terlihat sama, tapi tujuanku kali ini berbeda.“Di dalam Grand Central Market nanti, aku pasti akan beraksi". Udara dingin merasuk mengiringi perjalanan kami menyeberang ke Grand Central Market. Namun pandanganku masih terpaku kepada sosok bermantel putih yang mengusik hari liburku. Keberadaannya membuat summerku dulu menjadi winter. Kali ini mungkin yang turun bukanlah salju. Namun, hujan perasaan yang tidak terbendung. Akhirnya langkah kami diarahkan untuk masuk ke dalam Grand Central Market. Di dalam, banyak barang yang belum pernah aku jumpai sebelumnya dan untuk sesaat, mataku langsung tertuju pada sesuatu yang membuatku penasaran. Setelah kudekati, entah mengapa benda ini membuatku tertarik. Tanpa pikir panjang, kukeluarkan uang dari dompet untuk membelinya dan kumasukkan benda itu ke kantong mantelku. Ada rasa takut untuk melakukan apa yang sudah kurencanakan. Namun pikiranku memaksa tubuh ini untuk bergerak. Berbekal sedikit keberanian dan rasa greget, kupanggil wanita bermantel putih itu. Kutarik tangannya ke cafe terdekat memisahkan diri dari rombongan. Wajahnya terlihat bingung dan sorot matanya seakan bertanya-tanya “apa yang terjadi?”. Kuajak dia duduk di sudut cafe yang lumayan jauh dari keramaian. Hanya alunan musik klasik yang mengisi keheningan di antara kami. Sesaat setelah dua cangkir kopi ada di depan mata, aku memecah keheningan ini. Tanpa diperintah, bibir ini melontarkan sesuatu yang membuat kami terdiam cukup lama. Aku berkata: “Sejak pertama kali kita bertemu, aku melihat ada yang berbeda dari dirimu. Perbedaan itu yang membuatku penasaran. Seketika bola matanya semakin bulat dan memperhatikan kalimat yang kuucap. Aku bertanya: “Apakah kamu ingat dengan setangkai mawar yang ada di lokermu seminggu yang lalu?” Pandangannya langsung beralih ke arah jendela cafe seakan mengingat-ingat kejadian itu. Masih dengan raut wajah kebingungan, dia hanya mengangguk membenarkan perkataanku. Tiba-tiba sebuah pertanyaan terucap dari bibir kecilnya: “Jangan bilang bunga itu dari kamu?” Ahhh. Kali ini aku yang terkejut dengan pertanyaan itu. Apa jangan-jangan dia tahu tujuan dari rencanaku hari ini? Segera kuatasi rasa gugup ini dengan secangkir kopi yang ada di depan kami. Aku berusaha kembali tenang untuk melanjutkan kalimatku tadi. “Benar, mawar itu dariku.” Ucapku sambil mengambil sesuatu dari kantong mantel, benda yang sudah kubeli di pasar tadi. Kuberanikan diri menggenggam tangannya yang halus dan kutatap matanya lebih dalam. “Aku suka sama kamu sejak lama, maukah kamu menjadi lebih dari sekedar teman untuk menemani hari-hariku? Aku punya sesuatu, jika kamu bersedia, kamu bisa langsung pakai ini di tanganmu. Tapi jika kamu belum siap, tidak masalah, simpan saja tidak usah dipakai.” Keheningan kembali Mengisi perbincangan kami dan dia menatapku seperti tidak percaya jika semua ini nyata. Jemarinya bergerak ke arah gelang rantai berwarna biru dan aku terpaku melihat kejadian itu. Tanpa sepatah kata, dia langsung memakai gelang itu dan berjalan keluar cafe. Dengan perasaan gembira dan sedikit bingung, aku segera menyusulnya.

SELESAI
Story by

Jhotnes and Helen

Sayap sebelah yang patah

 Roma, 28 Desember 1999 Lahir seorang anak bernama Helena Alexandra. Dia anak yang sangat manis dan pintar. Alexa, begitu sapaan akrab untuk...