Sabtu, 21 November 2020

PERJALANAN BARU DI GRAND CENTRAL MARKET

  Musim ini aku kembali bersama-sama lagi dengan rombongan kelas meskipun perasaanku sudah berbeda dengan yang dulu. Memang aku terlihat sama, tapi tujuanku kali ini berbeda.“Di dalam Grand Central Market nanti, aku pasti akan beraksi". Udara dingin merasuk mengiringi perjalanan kami menyeberang ke Grand Central Market. Namun pandanganku masih terpaku kepada sosok bermantel putih yang mengusik hari liburku. Keberadaannya membuat summerku dulu menjadi winter. Kali ini mungkin yang turun bukanlah salju. Namun, hujan perasaan yang tidak terbendung. Akhirnya langkah kami diarahkan untuk masuk ke dalam Grand Central Market. Di dalam, banyak barang yang belum pernah aku jumpai sebelumnya dan untuk sesaat, mataku langsung tertuju pada sesuatu yang membuatku penasaran. Setelah kudekati, entah mengapa benda ini membuatku tertarik. Tanpa pikir panjang, kukeluarkan uang dari dompet untuk membelinya dan kumasukkan benda itu ke kantong mantelku. Ada rasa takut untuk melakukan apa yang sudah kurencanakan. Namun pikiranku memaksa tubuh ini untuk bergerak. Berbekal sedikit keberanian dan rasa greget, kupanggil wanita bermantel putih itu. Kutarik tangannya ke cafe terdekat memisahkan diri dari rombongan. Wajahnya terlihat bingung dan sorot matanya seakan bertanya-tanya “apa yang terjadi?”. Kuajak dia duduk di sudut cafe yang lumayan jauh dari keramaian. Hanya alunan musik klasik yang mengisi keheningan di antara kami. Sesaat setelah dua cangkir kopi ada di depan mata, aku memecah keheningan ini. Tanpa diperintah, bibir ini melontarkan sesuatu yang membuat kami terdiam cukup lama. Aku berkata: “Sejak pertama kali kita bertemu, aku melihat ada yang berbeda dari dirimu. Perbedaan itu yang membuatku penasaran. Seketika bola matanya semakin bulat dan memperhatikan kalimat yang kuucap. Aku bertanya: “Apakah kamu ingat dengan setangkai mawar yang ada di lokermu seminggu yang lalu?” Pandangannya langsung beralih ke arah jendela cafe seakan mengingat-ingat kejadian itu. Masih dengan raut wajah kebingungan, dia hanya mengangguk membenarkan perkataanku. Tiba-tiba sebuah pertanyaan terucap dari bibir kecilnya: “Jangan bilang bunga itu dari kamu?” Ahhh. Kali ini aku yang terkejut dengan pertanyaan itu. Apa jangan-jangan dia tahu tujuan dari rencanaku hari ini? Segera kuatasi rasa gugup ini dengan secangkir kopi yang ada di depan kami. Aku berusaha kembali tenang untuk melanjutkan kalimatku tadi. “Benar, mawar itu dariku.” Ucapku sambil mengambil sesuatu dari kantong mantel, benda yang sudah kubeli di pasar tadi. Kuberanikan diri menggenggam tangannya yang halus dan kutatap matanya lebih dalam. “Aku suka sama kamu sejak lama, maukah kamu menjadi lebih dari sekedar teman untuk menemani hari-hariku? Aku punya sesuatu, jika kamu bersedia, kamu bisa langsung pakai ini di tanganmu. Tapi jika kamu belum siap, tidak masalah, simpan saja tidak usah dipakai.” Keheningan kembali Mengisi perbincangan kami dan dia menatapku seperti tidak percaya jika semua ini nyata. Jemarinya bergerak ke arah gelang rantai berwarna biru dan aku terpaku melihat kejadian itu. Tanpa sepatah kata, dia langsung memakai gelang itu dan berjalan keluar cafe. Dengan perasaan gembira dan sedikit bingung, aku segera menyusulnya.

SELESAI
Story by

Jhotnes and Helen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sayap sebelah yang patah

 Roma, 28 Desember 1999 Lahir seorang anak bernama Helena Alexandra. Dia anak yang sangat manis dan pintar. Alexa, begitu sapaan akrab untuk...