Senin, 07 Desember 2020

Sayap sebelah yang patah

 Roma, 28 Desember 1999

Lahir seorang anak bernama Helena Alexandra. Dia anak yang sangat manis dan pintar. Alexa, begitu sapaan akrab untuk gadis kecil ini. Alexa adalah anak perempuan tunggal dengan Seorang kakak laki-laki. Namanya Alexander. Alex, begitu nama panggilannya. Alex sangat menyayangi adik perempuannya. Terpaut usia 4 tahun bukanlah jarak yang terlalu jauh untuk mereka berdua. Alexa mahir bermain piano. Dia sering mengikuti lomba di sekolah dan juga mengiringi musik di Gereja. Alexa sudah terlibat aktif dalam pelayanan sejak usia belia. 

Alex dan Alexa sangat di sayangi oleh kedua orang tua nya. Mommy dan Daddy yang sangat memperhatikan dan selalu memberikan waktu luang bagi kedua anak manis mereka. Keluarga ini bisa dibilang keluarga yang mampu dalam hal ekonomi. Alex dan Alexa bersekolah di salah satu sekah Swasta terbaik di Roma. Cita-cita menjadi pemain musik handal yang juga berprofesi sebagai Dokter, adalah impian Alexa sejak kecil. Begitu juga dengan kakaknya, Alex ingin menjadi pemain sepak bola terkenal seperti Christian Ronaldo. Namun dia juga ingin menjadi seorang Pengacara. Keluarga ini hidup rukun dan harmonis. 

Namun sesuatu yang menyedihkan terjadi di Keluarga kecil ini. Suasana menjadi berubah dengan drastis. Rutinitas sehari-hari yang biasanya dilakukan kini seperti ada bagian yang kurang. Ada sesuatu yang hilang. Ada sesuatu yang diambil dari keluarga kecil ini. 

Beberapa bulan sebelum ujian masuk perguruan tinggi, Daddy meninggal. Dengan kondisi kesehatan yang baik, sedang berada di rumah bersama Mommy, Alex, dan Alexa. Daddy mereka dipanggil pulang oleh Tuhan.

Keluarga kecil yang tinggal di kompleks perumahan mewah di kawasan Milan, Italia, merasa sangat kehilangan. Mereka kini tinggal bertiga dirumah. "Aku tidak bisa hidup tanpa Daddy, Mom! Gak bisa!" Alexa menangis sambil berteriak dikamar. "Tenang sayang. Daddy udah Happy kok sama Papi J". Sang ibu berusaha untuk menenangkan anak perempuannya tersebut. "Kenapa Daddy? Kenapa Papi J gak ngambil orang lain aja? Daddy nya siapa kek! Jangan Daddy kita yang diambil!" kalimat yang terdengar keras dari kamar Alex sambil menahan tangisannya. "Listen! Papi J itu sayang sama Daddy makanya Papi J pengen ketemu Daddy. Nanti kita juga bakalan ketemu Daddy kok. Bareng sama Papi J." Sang ibu kembali berusaha menenangkan kedua anaknya. Dengan hati yang juga hancur, wanita ini masuk ke kamarnya dan memeluk mantel hitam tebal yang biasa dipakai suaminya. Dia juga sedih. Dia juga hancur. Dia jugs merindukan suaminya. Namun dia harus kuat dan harus menguatkan anak-anaknya. 

Keluarga kecil ini kembali melanjutkan hari-hari hidup mereka dengan saling menguatkan. Anak-anak yang mulai tumbuh dewasa, selalu menhibur sang ibu dan merawatnya dengan penuh cinta. Mommy mereka selalu berkata "anak-anaknya Mommy Daddy kan hebat. Gak boleh giveup yah! Langit memang tidak selalu biru, tapi cinta nya Papi J selalu indah buat kita.". Demikian kalimat yang selalu wanita ini katakan pada anak-anaknya setiap hari. Alex dan Alexa menjalani kehidupan mereka dengan semangat yang baru untuk mengejar cita-cita hingga membuat Mommy dan Daddy mereka bangga.

Pelita yang Dinanti


Holla... Hallo….


Namaku Alexandra, biasa dipanggil Alexa atau Aca.

Aku tinggal disebuah desa bernama Desa Kananggar, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Tahun ini usiaku genap 12 tahun. Aku seorang anak petani yang memiliki 4 bersaudara. Aku anak perempuan pertama, kakak pertama dan kedua laki-laki. Aku memiliki adik perempuan yang bernama Alma. apakah namaku terdengar seperti artis luar negri? Yapss…. Benar. Bapak dan Ibu terinspirasi dari keluarga bule yang pernah mengunjungi daerah kami, desa Kananggar. Anak perempuan dari keluarga bule tersebut bernama Alexa, persis seperti namaku. Ibu menceritakan betapa baik dan harmonis keluarga Mr Starck, ayah dari Alexa. Mr Stack dan keluarganya datang ke desa kami untuk membawa sebuah alat yang sangat kami butuhkan. Alat yang tidak pernah kami terima dari pemerintah. Kami sangat membutuhkan alat ini. Sudah cukup lama hidup tanpa adanya sinar yang menerangi di larut malam. Alat tersebut adalah mesin pembangkit listrik tenaga angin. Mr dan Mrs Stack memberikan hadiah ini secara cuma-cuma untuk kami. Sebuah hadiah yang luar biasa.

Listrik bisa diibaratkan sebagai pelita yang telah lama dinanti. Sebenarnya bukan hanya di desa ku. Masih sangat banyak daerah di Sumba yang belum terjangkau dengan listrik. Salah satunya adalah sekolahku. Bukan hanya listrik, bahkan atapnya pun sering bocor karena hujan yang deras ketika musim penghujan. Fasilitas belajar yang sangat kurang juga kami rasakan selama bersekolah. Seperti tidak diperhatikan.

Setelah menanti bertahun-tahun lamanya, pelita yang dinanti itu datang. Mr and Mrs Starck bak penyelamat desa Kananggar. Mesin yang diberikan beroperasi dengan sangat baik. Karena daerah Sumba juga memiliki angin yang kencang, maka ini sangat cocok. Bapak kepala desa juga membangun kincir angin sehingga mesin dapat beroperasi dengan lancar. 

Kini pelita yang dinanti sudah didepan mata. Tetapi tidak hanya itu. Mr dan Mrs Stack juga membawa sesuatu yang spesial. Sebuah buku yang sudah sangat lama dinantikan anak-anak di desa. Alkitab bergambar. Betapa bahagianya anak-anak pada saat itu. Andai aku sudah lahir, pasti aku juga sudah melompat kegirangan. Eiiittss… tunggu dulu. Aku juga masih bisa membaca buku itu, Alkitab bergambar. Saking bagus dan dirawat dengan baik, generasi selanjutnya juga bisa menikmatinya. Aku sangat gembira.

Sayap sebelah yang patah

 Roma, 28 Desember 1999 Lahir seorang anak bernama Helena Alexandra. Dia anak yang sangat manis dan pintar. Alexa, begitu sapaan akrab untuk...